November 10, 2010

[INFORMASI]

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

INFORMASI :
Sudah hampir 5 (lima) bulan Yayasan Perguruan Al-Hikmah resmi tidak punya kantor sekeretariat, Untuk sementara kepentingan administrasi di alamat H. Iskandar Dz Jl. Palem IV/5 Petukangan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Telepon yang Dapat Dihubungi :
HP : Bp. Bachtiar Effendi : 08129141500
Bp. Iskandar Dz. 08128629947 /085782017747

Fax : 021-58902860

October 1, 2010

Karakter Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh dalam Aswaja

Karakter Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh dalam Aswaja
30/03/2009

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya:

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).

Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)

Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama'ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir'aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, "Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir'aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah". (Tafsir al-Qur'anil 'Azhim, juz III hal 206).

Dalam tataran praktis, sebagaimana dijelaskan KH Ahmad Shiddiq bahwa prinsip-prinsip ini dapat terwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut: (Lihat Khitthah Nahdliyah, hal 40-44)

1. Akidah.
a. Keseimbangan dalam penggunaan dalil 'aqli dan dalil naqli.
b. Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam.
c. Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis syirik, bid'ah apalagi kafir.

2. Syari'ah
a. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits dengan menggunanakan metode yang dapat dipertanggung­jawabkan secara ilmiah.
b. Akal baru dapat digunakan pada masalah yang yang tidak ada nash yang je1as (sharih/qotht'i).
c. Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif (zhanni).

3. Tashawwuf/ Akhlak
a. Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
b. Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai sesuatu.
c. Berpedoman kepada Akhlak yang luhur. Misalnya sikap syaja’ah atau berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono), sikap tawadhu' (antara sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan (antara kikir dan boros).

4. Pergaulan antar golongan
a. Mengakui watak manusia yang senang berkumpul dan berkelompok berdasarkan unsur pengikatnya masing-masing.
b. Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang berbeda.
c. Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling menghormati dan menghargai.
d. Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata memusuhi agama Islam.

5. Kehidupan bernegara
a. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indanesia) harus tetap dipertahankan karena merupakan kesepakatan seluruh komponen bangsa.
b. Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan semua aturan yang dibuat, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
c. Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta kepada pemerintah yang sah.
d. Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan, maka mengingatkannya dengan cara yang baik.

6. Kebudayaan
a. Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar. Dinilai dan diukur dengan norma dan hukum agama.
b. Kebudayaan yang baik dan ridak bertentangan dengan agama dapat diterima, dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus ditinggal.
c. Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan (al-­muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah).

7. Dakwah
a. Berdakwah bukan untuk menghukum atau memberikan vonis bersalah, tetapi mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
b. Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang jelas.
c. Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan keterangan yang jelas, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sasaran dakwah.


KH Muhyidin Abdusshomad
Pengasuh Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember

September 6, 2010

Berita Duka Cita

Assalamualaikum Wr. Wb.
Innalillahi wa Inna ilaihi Rooji'uun, telah meninggal dunia Bpk. Ust. Ibrohim Ilyas, Perawat/Pembina Sepuh dari Depok II (dahulu beliau tinggal di Kali Pasir (tahun 1970-an), semoga diampuni dosa-dosanya dan dilapangkan kuburnya, marilah Ikhwan Al-Hikmah kita hadiahkan surotulfaatihah buat beliau......alfaatihah..... 

Wassalamualaikum Wr. Wb.



August 24, 2010

EMPAT MACAM MUTIARA MANUSIA

EMPAT MACAM MUTIARA MANUSIA


Sungguh menyedihkan dan memprihatinkan mutu moral/akhlak sebagian saudara kita yang sebangsa, setanah air dan sebahasa Indonesia. Para calon cendikiawan (para mahasiswa) yang tawuran (satu kampus lagi), jumlah koruptor kian bertambah, gara-gara kalah pilkada tindakan anarkispun terjadi. Ya masih banyak lagi bila mau diurai.
Berdasarkan hadis Rasulullah SAW : Empat macam mutiara manusia yang dapat hilang karena empat perkara lainnya (1) Akal dihilangkan oleh marah,(2) Agama dihilangkan oleh hasad(dengki),(3) Malu dihilangkan oleh tamak,(4) Amal sholeh dihilangkan oleh menggunjing.

اربعةٌ منْ جوارح الإنسان يزيلها بأربعة أشياء:العقل يزيلها الغضب, والدين يزيلها الحسد, والحياء يزيلها الطمع والعمل الصا يزيلها الغيبة.
1.     Akal dilangkan karena marah
Akal merupakan salah satu hidayah Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan akal kedudukan manusia paling tinggi dan utama dibandingkan makhluq Allah lainnya. Dengan akal, manusia dapat membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah, dapat membedakan yang membahayakan dan yang aman, Oleh karena pentingnya manusia menggunakan akalnya, dalam Al Qur’an sebanyak 13 kali Allah menegur manusia yang berpaling atas kekuasaan Allah dan tidak menggunakan akalnya dengan kalimat Afala Ta’qilun ( افلا تعقلون  ).
Akal sehat seseorang akan hilang apabila tidak dapat mengendalikan amarahnya. Dengan amarah, manusia tidak dapat membedakan yang baik dan buruk, dengan marah seseorang sulit membedakan yang bahaya dan tidak.
Para sarjana kesehatan telah mencatat bahwa 60 % dari penderita sakit jiwa, TBC dan darah tinggi adalah berasal dari orang yang mudah tersinggung. Dan ketiga penyakit itu akan mudah disembuhkan bila sipenderita menjauhi amarahnya.
Hadis Rasulullah SAW menyatakan; “Bukanlah orang kuat karena menang bertarung, tapi orang kuat ialah yang mampu menahan amarahnya”
ليس الشديد بالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب (رواه البخاري ومسلم)
Hadis Rasulullah SAW lainnya: menyatakan Wahai Mu’awiyah jauhilah dirimu dari sifat amarah, sesungguhnya amarah itu merusak iman, sebagaimana jadam merusak madu”
يا معاوية إياك والغضب فإنّ الغضب يفسد الإيمان كما الصبر العسل (رواه البيهاقي وابن عساكر)
2.     Agama hilang karena hasud.
Hasud atau dengki adalah sikap batin yang tidak senang kepada orang lain yang mendapat kenikmatan, sekaligus mengharapkan hilangnya kenikmatan itu dari pemiliknya. Panyakit ini merupakan penyakit tertua, karena sejak manusia pertama ada dimuka bumi, penyakit ini sudah ada. Kita ingat peristiwa dibunuhnya Habil oleh Qabil (putranya Nabi Adam) karena sifat dengki.
Dalam AlQur’an telah diperingatkan oleh Allah:” Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian orang lain lebih banyak dari sebagian yang lain”( Annisa 32)
وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ
Firman Alloh dalam surah Az-zukhruf ayat 32:”Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضاً سُخْرِيّاً وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٣٢﴾
Hadis Rasulullah SAW memperingatkan: Hasud itu memakan/menghilangkan kebaikan sebagimana api membakar kayu yang kering”(HR. Ibnu Majah)
الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الخطب
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW boleh hasad terhadap dua hal yakni (1) terhadap seseorang yang mampu mengamalkan isi kandungan Al Qur’an siang dan malam (2) terhadap seseorang yang senantiasa menginfakkan dan bersedekah dari sebagian harta kekayaannya siang dan malam.
لا حسد إلا قي إثنين: رجل اتاه الله القران فهو يقوم به أناء الليل وأناء النهار, ورجل أتاه نالا ينفقه أناء الليل وأناء النهار (رواه الشيخان)

3.     Malu hilang karena sifat tamak( Thoma’)
Tamak adalah sikap batin yang menginginkan agar kenikmatan yang ada pada orang lain pindak kepada dirinya. Dengan kata  lain seseorang tidak merasa puas dengan apa  yang telah dimiliki. Bila kita perhatikan kata tama’ berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari huruf Tho (ditengahnya berlobang), huruf kedua Mim(ditengahnya juga berlobang), dan berakhir dengan Huruf ‘Ain (yang menganga). Dengan falsafah huruf-huruf tersebut, bahwa sifat thamak pada akhirnya tidak akan mendapat apa-apa kecuali penyesalan/sia-sia.
Dengan sifat Thoma’ seseorang tidak akan malu melakukan tindakan-tindakan yang melawan hokum agama dan negara, social kemasyarakatan dan keagamaan dan etika.
Hadis Nabi menyatakan : Al Haya’u minal Iman” (malu itu sebagian dari iman)
Hadis lain menyatakan” Al Haya’u la ya’ti illa bi khair’( Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan) Maksudnya malu itu pasti mendatangkan kebaikan bagi seseorang.
Hadis lain menyatakan: “Sekiranya malu itu ada pada seseorang, pasti dia adalah orang yang sholeh. Sebaliknya bila sifat malu itu tidak ada pada seseorang dia termasuk orang tidak baik.
“Law kaanal hayaa’u rajulan lakaana rajulan sholuhan, walau kaanal fakhsyu rajulan    lakaana rajulan suu’an”

4.     Amal shaleh akan terhapus oleh gunjingan
Menggunjing adalah salah satu sifat jelek manusia dan dapat menimbulkan permusuhan. dan menghilang amal soleh.
Menggunjing(ghibah) adalah menyebutkan seseuatu yang ada pada seseorang, yang membuatnya tidak senang atau marah. “Zikruka akhaaka bima yakrahu”
Sesuatu yang diceritakan itu benar-benar terjadi atau tidak terjadi sama sekali keduanya termasuk menggunjing.
Sifat menggunjing termasuk sifat yang dapat menimbulkan bahaya dan dampak yang bahaya, Allah telah memperingatkan dalam surah Al Hujurat ayat 12”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”
Jadi dapat disimpulkan bahwa empat mutiara manusia berupa:
  1. Akal, yang menggambarkan pemikiran dan tindakan rasional seseorang akan hilang karena marah-marah, emosional;
  2. Agama, nilai-nilai agama yang ada para seseorang akan terabaikan karena sifat hasad dan iri-dengki, sehingga berusaha saling menjatuhkan dan merendahkan.
  3. Rasa malu, akan terabaikan karena faktor ketamakan akan harta dan jabatan, sehingga tidak pandang lawan-kawan, halal -haram, legal-illegal;
  4. Amal shaleh, akan terhapus atau tidak memiliki investasi apa-apa di sisi Alloh SWT karena faktor gunjingan yang sangat membahayakan rasa keakraban, persatuan dan persaudaraan. Dengan demikian Islam sangat mementingkan kedamaian dan keakraban dalam masyarakat.

August 3, 2010

July 13, 2010

Al-Hikmah Masa Lalu

Ini bukti kebesaran dan kejayaan AL-HIKMAH dizaman ABAH KH.SYAKI ABDUSYUKUR...
Seorang wong kam fu mengirim surat pada beliau hanya untuk minta izin belajar dan sharring pada abah...


SEKRETARIAT EMPEH WONG KAMFU
KHUSUS BAGIAN PALMISTRY
(Ilmu rajah tangan yg sdh terkenal ribuan tahun di seluruh dunia)
Jakarta, 14 April 1976
Kepada Yth
Bapak Kiyai Haji M.Syaki
Desa Cisoka
Tigaraksa
T a n g e r a n g.

Dengan hormat,
Berhubung dengan berita dalam "Buana Minggu" tanggal. 21 Maret 1976, tentang kebijaksanaan Bapak dalam ilmu pengetahuan yang tinggi,
maka saya menjadi sangat tertarik sekali untuk datang di desa Cisoka guna mohon bimbingan ilmu pengetahuan dari Bapak yang budiman.

Jikalau Bapak tidak merasa keberatan atas permohonan saya, harap Bapak suka tolong memberikan sedikit kabar untuk saya datang, dan terlebih dahulu saya mengucapkan banyak terima kasih.

Salam Hormat Saya
Wong Kam Fu


June 21, 2010

Info : Yayasan Perguruan Al-Hikmah

YAYASAN PERGURUAN AL-HIKMAH, UNTUK SEMENTARA PINDAH KANTOR SEKRETARIAT, DI KOPERASI SEHATI JL. WARGA NO. 1B RT.015/03, PEJATEN BARAT, PASAR MINGGU, JAKARTA SELATAN (BELAKANG RS. SIAGA PASAR MINGGU)