January 21, 2010

Interaksi Dengan Al Quran


Pada kesempatan ini kita mengurai tentang bagaimana hubungan kita dengan al Qur'an. Baginda Nabi Saw yang menerima al Qur'an jauh sebelum mendapat wahyu sering nyepi di dalam gua hiro. Kadang 3 hari, kadang 10 hari, kadang lebih, sehingga pada waktu turun wahyu iqra' bismirabbikal ladi kholaq, kholaqal insane min alaq, pada saat nabi khalwat, menyepi.
Dengan sering tafakur nabi lebih dekat, lebih dekat bukan untuk mengenal, karena Nabi sudah mengenal Allah Ta'ala. Sehingga ketika di gua hiro' pendekatan-pendekatan (taqarub) yang dilakukan nabi sangat luar biasa. Sehingga tepat turunnya wahyu.

Bilamana kita membaca al Qur'an, selain membaca dan memahami maksudnya, juga untuk mengingatkan bagaimana nabi, para rasul itu dalam taqarrubnya kepada Allah dengan melalui al Qur'anul karim, jadi tidak semata-mata membaca al Qur'an.

Tidak hanya tahu ma'nawiahnya saja, tapi tahu bagaiman para anbiya' para rasul bahkan bagaimana para ulama meningkatkan maqam taqarrub sehingga sampai pada tingkatan merasa dilihat oleh Allah Ta'ala', hingga akhirnya bisa meresapi apa yang diperintahkan oleh Allah, mana yang dilarang oleh Allah Swt.

Dengan imannya, taslim, berserah diri, bukan dengan akalnya. Akal ikut iman bukan iman ikut akal. Sehingga taslim akalnya, taslim matanya, taslim telinganya, taslim perilakunya. Sehingga sebagaimana diceritakan dalam maulud diba' oleh Sayyidi Abdurrahman Adiba'i al Hasani, dalam hadis, beliau mengatakan 'Qulubuhu al Qur'an', bahwa perilakunya, akhlaqnya baginda nabi Saw Adalah Al Qur'an, tidak pernah terlepas dari al Qur'an.

Sehingga orang itu ketika membaca al Qur'an, maka saat itu pula semakin dekat, semakin taqarrub kepada Allah Ta'ala. Bilamana kepada Allah semakin taqarrub, dia akan dibersihkan daripada sifat-sifat yang tidak terpuji disisi Allah dan tidak terpuji disisi Rasulullah Saw. Inilah Ulama-ulama kita, auliya-auliya kita di dalam membaca al Qur'anul karim. Dari itu beliau-beliau tidak pernah terlepas adab dan akhlaqnya, dalam membaca al Qur'an. Demikian, insya Allah kita lanjutkan pada Jum'at kliwon berikut sekaligus Halal bihalal.

Yang penting hari ini pengajian kita tetap berjalan, tetap untuk istiqomah. Lo kenapa puasa Ramadhan pengajian ko tidak libur? La maksiat juga kan tidak berhenti, kalau maksiatnya tidak berhenti, harusnya pengajiannya juga tidak berhenti.

Walaupun satu ayat, satu kalimat, dua kalimat, itulah diantara yang bisa menjadi sebab panjang umur, sehat wal afiat. Sampean (para jama'ah) juga mendo'akan saya biar panjang umur, sehat wal afiah dhohiron wa bathinan, itulah yang bisa saya sampaikan, insya Allah kita sambung lebih panjang lagi plus Halal Bi Halal setelah hari raya nanti, kurang lebihnya afwa wa minkum Wassalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Al Habib Luthfi Yahya (Pengajian Jum'at Kliwon 4/09- Kitab Jami'ul Ushul - Gedung Kanzus Sholawat-Pekalongan/spyn)





No comments:

Post a Comment

Post a Comment